81 TAHUN, INDONESIA BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR DI UPTD SDN KADEMANGAN 01
Pagi itu terasa berbeda. Langit pagi terbentang cerah, berwarna biru muda yang bersih, seolah tidak ada satu pun awan yang mau mengganggu suasana. Angin kecil berhembus pelan, tidak kencang, tetapi cukup untuk membuat kerudung dan rambut-rambut siswa sedikit bergerak. Udara terasa segar, dingin tipis di awal waktu, lalu perlahan menjadi hangat. Setiap hembusan angin seperti mengiringi langkah mereka menuju lapangan, seperti ikut memberi tanda bahwa hari ini adalah hari yang penting, hari yang selalu ditunggu-tunggu.
Di UPTD SDN Kademangan 01, suasana sejak awal sudah terlihat tertib dan penuh kesibukan yang terarah. Halaman sekolah tidak lagi ramai seperti hari biasa yang hanya penuh canda. Kali ini, ramai yang terdengar adalah suara langkah kaki yang teratur, bisik-bisik yang saling mengingatkan, dan tawa kecil yang cepat hilang saat mengingat bahwa upacara akan segera dimulai. Di depan kelas dan lorong sekolah, para siswa berbaris menunggu arahan guru, sambil merapikan posisi dan perlengkapan masing-masing.
Bel sekolah berbunyi tepat pada waktunya, suaranya terdengar jelas dan tegas, seperti memberi aba-aba agar semua persiapan berhenti dan perhatian sepenuhnya tertuju pada upacara. Seketika itu juga, suara yang tadinya ramai berubah menjadi lebih pelan, seolah seluruh siswa menahan napas sebentar. Langkah-langkah kecil berhenti, barisan dirapikan kembali, dan pandangan mata tertuju ke arah lapangan yang sudah siap.
Tak lama kemudian, para dewan guru dan staff sekolah memasuki lapangan., lalu suasana menjadi semakin khidmat. Mereka berdiri berjajar dengan posisi rapi, seragam mereka terlihat jelas dengan menggunakan seragam KORPRI, dan sikap tubuh yang tegak memberi contoh kedisiplinan yang langsung terasa oleh seluruh siswa.
Upacara Hari Kemerdekaan di UPTD SDN Kademangan 01 berjalan dengan khidmat sejak awal. Suasana semakin terasa berbeda ketika REGA GUNAWAN maju sebagai pemimpin upacara. Ia berdiri tegak dengan sikap yang penuh percaya diri. Tatapannya fokus ke depan, suaranya terdengar jelas, dan gerakannya rapi sehingga membuat semua peserta upacara,baik siswa maupun guru, langsung mengikuti setiap aba-aba yang ia sampaikan. Rega terlihat sangat berwibawa, seperti sudah siap menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin.
Di bagian depan lapangan, Bapak SUBHAN FAJAR, S.Pd. hadir sebagai pembina upacara. Beliau berdiri dengan tenang, mengenakan seragam yang rapi, dan memberikan suasana yang semakin serius serta penuh makna. Waktu menunjukkan bahwa momen ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan peringatan yang harus dihormati dengan sikap yang baik dan penuh tanggung jawab.
Setelah bagian pembukaan dan persiapan selesai, Rega memimpin jalannya prosesi dengan tertib. Musik dan suasana lapangan membuat hati para peserta upacara bergetar pelan, namun tetap hangat. Kemudian, tibalah saat yang paling dinanti, pengibaran bendera merah putih.
Pada momen itu, tampil Paskibraka di antaranya ada APRILIA FATMA FIRZANI, JULYANI PUTRI RAMADHANI, KEZIA CHAIRUNNISA TIANNA, NAILAH THAFANA, WINDA, ARIANI SHEILA SHOLIHAH, THAFANA RIZQIANISA KAMILA, dan THALITA ALYA AGUSTINA HARAHAP. Mereka berdiri dengan posisi yang sempurna, wajah mereka terlihat tegas dan serius, dan gerakan mereka saat menaikkan bendera sangat bagus. Saat bendera mulai bergerak naik, mereka tampak kompak dan sangat terlatih; langkah dan tangan mereka mengikuti aba-aba dengan presisi. Bendera merah putih terangkat pelan tapi pasti, seolah semua persiapan dan latihan selama ini akhirnya menjadi penampilan yang patut dibanggakan.
Ketika bendera berhasil dikibarkan dan seluruh peserta melaksanakan sikap hormat, Bapak Subhan Fajar, S.Pd. menyampaikan amanat upacara dengan bahasa yang jelas dan penuh semangat. Beliau menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang harus terus diperjuangkan agar menjadi berdaulat, adil, dan makmur. Amanat tersebut disampaikan bukan hanya sebagai kalimat dalam upacara, tetapi sebagai pelajaran untuk anak-anak agar memahami arti kemerdekaan.
Beliau mengajak para siswa untuk mengerti bahwa berdaulat berarti bangsa Indonesia harus tetap berdiri dengan harga diri dan tidak mudah terpecah. Lalu, adil berarti kita harus berlaku jujur, tidak membeda-bedakan teman, dan berani melakukan yang benar. Sedangkan makmur berarti cita-cita bangsa yang ingin menjadikan kehidupan yang sejahtera, dengan belajar sungguh-sungguh, berusaha, dan saling membantu. Semua pesan itu terdengar sangat menyentuh, sehingga suasana lapangan makin terasa menggetarkan hati.
Upacara peringatan Hari Kemerdekaan ditutup dengan pembacaan doa. Seluruh peserta mengikuti dengan khidmat. Setelah doa, pembina upacara meninggalkan mimbar dan barisan dibubarkan. Dengan selesainya upacara, rangkaian kegiatan resmi berakhir. Suasana lapangan kembali tenang. Namun semangat kemerdekaan tetap tertanam di hati para siswa.Upacara ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga melalui sikap disiplin, belajar giat, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis :
Nurmilah, S.Pd., M.Pd
Guru UPTD SDN Kademangan 01 Kota Tangerang Selatan